Wednesday, September 14, 2016

KAMPUNG INGGRIS: Kunci Study Abroad

KAMPUNG INGGRIS:
Kunci Study Abroad

Prolog

Ada setidaknya dua tujuan utama orang-orang datang ke Kampung Inggris yang terletak di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur itu. Mereka ingin jalan-jalan sambil belajar bahasa Inggris atau belajar bahasa Inggris sambil jalan-jalan. Saya termasuk ke dalam golongan kedua karena tujuan utama saya adalah belajar IELTS alias International English Language Testing System, sambil sesekali jalan-jalan kalau ada kesempatan. Hehehe.

Sertifikat IELTS saya anggap sebagai kunci untuk kuliah di luar negeri sedangkan beasiswa adalah pintunya. Makanya saya mencari kunci dulu sebelum membuka pintu untuk study abroad. Kunci itu salah satunya bisa didapatkan di Kampung Inggris, sehingga saya memutuskan mencari kunciku di kampung edukasi tersebut.



Sebelum berangkat, saya sudah browsing di internet tentang Kampung Inggris, mulai dari tempat kursusan, kos-kosan, camp, biaya hidup, dll., sehingga perjalanan menuju Kampung Inggris tidak begitu sulit, yang penting isi dompetmu cukup. Jika kamu tinggal di luar pulau Jawa, maka hal pertama yang harus  dilakukan adalah menginjakkan kaki di pulau tersebut, terserah mau lewat jalur udara atau jalur laut ataupun gabungan keduanya (kalau bisa, hehehe). Saya berangkat dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar terbang menuju Bandara Juanda Surabaya. Lama perjalanan kurang lebih 20 menit (ditambah perbedaan waktu 1 jam, hihihi). Di Juanda, saya memiliki dua pilihan, naik Bus atau naik Mobil Travel (Mobil Sewa). Kalau mau naik Bus, berarti saya harus naik Damri dulu ke Terminal Bungorasih (25K) kemudian ambil Bus langsung ke Kampung Inggris (biayanya beda-beda, tergantung kualitas Busnya, 20K-50K). Tapi, pada saat itu bawaan kami  cukup banyak (saya berangkat bertiga bareng teman) sehingga repot kalau pindah-pindah kendaraan, maka saya pilih naik Mobil Sewa (100K), diantar langsung ke tujuan.

Setiap akhir tahun sampai awal tahun, jumlah pengunjung Kampung Inggris pasti meningkat, jadi pastikan sudah memiliki tempat tinggal jika ingin berangkat pada rentang waktu tersebut. Bisa booking pakai agen ataupun melalui bantuan teman. Dulu saya berangkat awal Desember 2014, ketika sampai, saya cukup kesulitan mencari kos-kosan dan sepeda sewa yang murah. Tapi, alhamdulillah, saya dapat kamar dengan harga 175K/orang per bulan, isi 4 orang, dan sewa sepeda 80K. Tak lama kemudian, saya pindah kosan, harganya sangat murah, 300K/4 orang per bulan, dan sewa sepeda 50K.
***

Aktifitas

Jika kamu muslim, maka bangunlah pukul 4.00 WIB, karena waktu subuh dimulai sekitar 4.10-4.15 WIB, kemudian siap-siaplah memulai aktifitas karena beberapa kursusan buka pada pukul 5.00 WIB dan ada juga yang buka pukul 6.00 WIB. Pada waktu tersebut, aktifitas gowes mulai ramai karena mereka takut terlambat, maklum aturan kursusan cukup tegas, apalagi untuk masalah kedisiplinan. Saya kursus di English Studio, salah satu tempat kursus terbaik untuk belajar IELTS. Di sana, jika kamu terlambat, jangan berharap untuk bisa ikut kelas (kecuali kalau Teacher-nya lagi baik hati, hehehe). Selain English Studio, ada dua lagi tempat kursusan lainnya yang juga populer untuk belajar IELTS. Pertama, TEST, sangat cocok buat kamu yang mau nge-test kemampuan bahasa Inggris. Alumni TEST sudah banyak yang berhasil dapat IELTS tinggi, bahkan banyak juga yang sudah kuliah di luar negeri. Salah satu pendiri TEST jugalah yang mendirikan English Studio. Selain IELTS, TEST juga membuka TOEFL preparation. Yang kedua adalah satu-satunya kursusan IELTS yang juga sebagai tempat penyelenggara tes IELTS, yaitu Global English. Ketiga kursusan tersebut highly recommended, tapi di sini saya akan menceritakan lebih banyak tentang English Studio, tempat kursus yang paling muda, dan saya termasuk generasi tahun pertama kursusan tersebut. Akan tetapi, yang terpenting bukan hanya tentang dimana kamu belajar, tapi juga tentang seberapa besar tekadmu untuk belajar. 

 
(Teman kursusan di English Studio, Desember 2014)

Well, sebenarnya sebelum berangkat ke Kampung Inggris, saya sudah memutuskan untuk les di English Studio berdasarkan rekomendasi teman yang juga dulu kursus di sana. Jadi, saya sudah booking  tempat sebelumnya. Pas sampai di lokasi, saya tinggal lunasi biaya kursusannya dan langsung masuk esok harinya. Untuk pertama kali, mungkin sulit untuk menyesuaikan karena program yang saya ambil fullday, masuk pagi pulang malam. Sampai-sampai teman kos bilang kalau kita Cuma numpang tidur di kamar. Hehehe. Bahkan saya jarang bermalam di kosan, hanya pulang untuk keperluan mandi dan ganti baju. Saya lebih sering bermalam (lebih tepatnya, begadang) di English Studio. Yah, begitulah nasib pemburu kunci, usahanya harus sedikit lebih keras, kurangi jalan-jalan. 
***

Tansu

Selama satu bulan itu, perjalanan terjauh saya adalah Tansu atau Ketan Susu. Tempat nongkrong ini cukup terkenal dan sangat ramai setiap akhir pekan karena memiliki pemandangan yang sangat cantik dengan hamparan sawah yang begitu hijau. Tempat yang pas untuk menikmati ketan yang dicampur dengan susu (bubuk atau cair). Bisa juga ditambahkan rasa cokelat atau keju, sesuai selera, dengan harga yang super murah. Selain itu, kamu juga bisa menikmati Tape Susu (saya menyebutnya Tapsu), minuman favorit saya. Hehehe. Cukuplah untuk me-refresh otak sebelum hari senin saat kelas kembali dimulai. Begitulah rutinitas kami setiap akhir pekan, dan tanpa terasa, Alhamdulillah, program IELTS 1 bulan yang saya ambil sudah berakhir, meski saya tidak masuk di tiga hari terakhir karena gangguan pencernaan, bahkan sampai berobat di Puskesmas Pare. Jadi, jaga selalu kesehatanmu, siapkan asuransi kesehatan kalau perlu, hehehe.
***

Kelud

Kampung Inggris tidak hanya dijadikan tempat belajar bahasa, tapi juga menjadi tempat rekreasi dan jalan-jalan seperti yang saya tulis di awal bahwa ada orang yang tujuannya jalan-jalan sambil belajar bahasa dan ada juga yang ingin belajar bahasa sambil jalan-jalan. Nah, karena tujuan saya adalah belajar sambil jalan-jalan, maka setelah penat belajar selama sebulan, saya dan teman sekelas berencana jalan-jalan ke Gunung Kelud yang sempat meletus di awal tahun 2014 dan menyebabkan aktifitas di Kampung Inggris sempat mandet beberapa bulan. Pasca meletus, Gunung Kelud mengalami suksesi sehingga menjadi tujuan wisata menarik. Saya kurang pandai mendeskripsikan keindahan alam ciptaan Tuhan, lebih jelasnya, silahkan liat foto berikut.

(Gunung Kelud setelah mengalami suksesi)
***

Gumul

Kalau ke Kelud, jangan lupa singgah di simpang lima Gumul. Bangunan berbentuk kotak itu sangat terkenal dan menjadi must-visited-icon di Kediri. Tidak sah ke Kediri kalau belum ke Gumul. Yah, memang unik bangunannya dan sangat pas buat foto-foto. Saat saya upload foto di media sosial, salah seorang teman berkomentar “cie… lagi di Paris”, padahal Cuma di Kediri. Loh, kok bisa? Ternyata landmark ini sangat terkenal karena artsitekturnya sangat mirip dengan salah satu bangunan di Paris, Arch de Triomphe. Makanya, Kediri juga sering dijuluki sebagai Parisnya Indonesia. Hehehe.

(Simpang Lima Gumul)
***

Tutor

Ok, sudah cukup jalan-jalannya, kembali ke tujuan awal: belajar. Rencana saya setelah selesai program 1 bulan belajar IELTS adalah self-study sebelum ambil real test. Tapi, nasib berkata lain. English Studio memberikan kami bertiga (teman seperjuangan dari Makassar: Fandy dan Fachrul) sebuah tawaran menarik, yaitu kursus gratis selama 3 bulan dengan syarat kami juga harus ngajar kelas tambahan. Tanpa pikir panjang, kami pun menerima tawaran itu. Jadi, selama Januari sampai awal April 2015, kami belajar sambil mengajar. Babak baru dimulai di kelas baru yang diajar langsung oleh Mr. Eddy. Sejak awal kami sangat ngarep diajar sama beliau, bahkan saya sering curi-curi mengikuti kelasnya dari luar saat masih ambil program 1 bulan.

Saking semangatnya ikut kelas, buku Beginner dan Intermediate tuntas dalam waktu kurang dari sebulan. Padahal normalnya dua bulan. Luar biasa menurut saya. Nah, tantangan selanjutnya datang ketika Kak Tia, tutor yang ngajar saya saat ambil program 1 bulan, harus cuti untuk persiapan real test. Saya dipilih untuk menggantikannya, dan sebagai syarat utama mengajar di program itu, saya harus real test.
***

Real Test

Saya baru saja masuk kelas Advance saat tawaran real test itu datang. Rasanya belum siap, tapi ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan kunci study abroad, jadi saya harus yakin dengan mantap. Insya Allah, berapapun hasilnya, itulah yang terbaik dari dan untuk saya. Alhasil, saya dapat band score IELTS 6.5. Alhamdulillah, kunci kini sudah di tangan. Eventually, saya mengajar program IELTS 1 bulan sampai awal April. Awalnya, English Studio menawarkan untuk mengajar sampai Ramadhan, tapi saya harus kembali mencari pintu study abroad-ku. Jika ada kesempatan, saya pasti akan kembali, dan terbukti, setalah mendapat pintu beasiswa LPDP, saya kembali ke Kediri untuk menunaikan janji saya.
***

Bromo

Nah, after struggling with IELTS, saatnya jalan-jalan lagi. Kampung Inggris, selain menjadi pusat belajar bahasa yang murah, juga menjadi tempat menjamurnya bisnis traveling yang menyediakan jasa antar-jemput ke lokasi wisata, salah satu tujuan wisata yang terkenal adalah Gunung Bromo.
Menanti Sunrise di Gunung Bromo

Bagi yang suka traveling, tourist destination di sekitar Kediri masih banyak dan tak kalah indahnya. Tapi, saya Cuma sempat mengunjungi tempat-tempat di atas. Cukup sekian ya, selamat mengunjungi Kampung Inggris, Kediri.